Beliau terkenal oleh Penduduk Langit

{0 notes}

Uwais Al-Qorni



Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli membaca Al Qur’an dan menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan, tiada orang yang menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit. Dia, jika bersumpah demi Allah pasti terkabul. Pada hari kiamat nanti ketika semua ahli ibadah dipanggil disuruh masuk surga, dia justru dipanggil agar berhenti dahulu dan disuruh memberi syafa’at, ternyata Allah memberi izin dia untuk memberi syafa’at sejumlah qobilah Robi’ah dan qobilah Mudhor, semua dimasukkan surga tak ada yang ketinggalan karenanya.

Dia adalah “Uwais al-Qorni”. Ia tak dikenal banyak orang dan juga miskin, banyak orang suka mentertawakan, mengolok-olok, dan menuduhnya sebagai tukang membujuk, tukang mencuri serta berbagai macam umpatan dan penghinaan lainnya. Seorang fuqoha’ negeri Kuffah, karena ingin duduk dengannya, memberinya hadiah dua helai pakaian, tapi tak berhasil dengan baik, karena hadiah pakaian tadi diterima lalu dikembalikan lagi olehnya seraya berkata : “Aku khawatir, nanti sebagian orang menuduh aku, dari mana kamu dapatkan pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari mencuri”.

Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tak punya sanak famili kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya. Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya. Uwais al-qorni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar seruan Nabi Muhammad SAW yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya. Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur. Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera memeluknya, karena selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya kebenaran.

Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad SAW secara langsung. Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui rumah tangga mereka dengan cara kehidupan Islam. Alangkah sedihnya hati Uwais setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka itu telah “bertamu dan bertemu” dengan kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang ia sendiri belum. Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang ibu yang jika ia pergi, tak ada yang merawatnya. Diceritakan ketika terjadi perang Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Khabar ini akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada Rasulullah SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya.


Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, bilakah ia dapat menziarahi nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat ?
Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat membutuhkan perawatannya dan tak tega ditinggalkan sendiri, hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa. Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menziarahi Nabi SAW di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau memaklumi perasaan Uwais, dan berkata : “Pergilah wahai anakku ! temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang”. Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman. Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari, semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya.

Tibalah Uwais al-Qorni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah Sayyidatina ‘Aisyah r.a., sambil menjawab salam Uwais. Segera saja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi SAW dari medan perang. Tapi, bilakah beliau pulang? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman,” Engkau harus lekas pulang”. Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada Sayyidatina ‘Aisyah r.a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan perasaan haru. Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Uwais al-qorni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda Rosulullah SAW, sayyidatina ‘Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun. Menurut informasi sayyidatina ‘Aisyah r.a., memang benar ada yang mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.

Rosulullah SAW bersabda : “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-qorni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.” Sesudah itu beliau SAW, memandang kepada Sayyidina Ali k.w. dan Sayyidina Umar r.a. dan bersabda : “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi”. Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. telah digantikan oleh Khalifah Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi SAW. tentang Uwais al-qorni, sang penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kepada Sayyidina Ali k.w. untuk mencarinya bersama. Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka. Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua. Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka.

Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera Khalifah Umar r.a. dan Sayyidina Ali k.w. mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qorni. Sesampainya di khemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar r.a. dan Sayyidina Ali k.w. memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan sholat. Setelah mengakhiri sholatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW. Memang benar ! Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut, siapakah nama saudara ? “Abdullah”, jawab Uwais. Mendengar jawaban itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan : “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?” Uwais kemudian berkata: “Nama saya Uwais al-Qorni”.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali k.w. memohon agar Uwais berkenan mendo’akan untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah: “Sayalah yang harus meminta do’a kepada kalian”. Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata: “Kami datang ke sini untuk mohon do’a dan istighfar dari anda”. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo’a dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata : “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi”.


Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar beritanya. Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh Uwais , waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak menghentam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat. Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan sholat di atas air. Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu. “Wahai waliyullah,” Tolonglah kami !” tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu kami berseru lagi,” Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!”Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata: “Apa yang terjadi ?” “Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan dihentam ombak ?”tanya kami. “Dekatkanlah diri kalian pada Allah ! “katanya. “Kami telah melakukannya.” “Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca bismillahirrohmaanirrohiim!” Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu.
Pada saat itu jumlah kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut. Lalu orang itu berkata pada kami ,”Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat”. “Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan ? “Tanya kami. “Uwais al-Qorni”. Jawabnya dengan singkat. Kemudian kami berkata lagi kepadanya, “Sesungguhnya harta yang ada di kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir.” “Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?” tanyanya.”Ya,”jawab kami. Orang itu pun melaksanakan sholat dua rakaat di atas air, lalu berdo’a. Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal.

Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya. Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, “ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa pemerintahan Sayyidina Umar r.a.) Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.

Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya : “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorni ? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan unta ? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa “Uwais al-Qorni” ternyata ia tak terkenal di bumi tapi terkenal di langit.

Dipetik dari
www.iluvislam.com
oleh : nazneen rafiqah
editor : almusafirq8

solat awal waktu

{0 notes}

Assalamualaikum wbt. Apakabar? Moga2 kita semua sihat sejahtera hendaknya dengan izin Allah swt. Ha, petang2 Isnin sangat tenang dan damai ni, sambil2 merehatkan diri seketika lepas kepenatan bekerja atau sekolah atau sebagainya, just nak kongsi bersama dengan anda semua.. sesuatu yang mungkin anda dah tahu atau belum tahu.Ianya adalah tentang SOLAT DI AWAL WAKTU. Nak pinjam masa 5 minit anda semua boleh? terima kasih yeh..:D Setiap peralihan waktu solat sebenarnya menunjukkan perubahan tenaga alam ini yang boleh diukur dan dicerap melalui perubahan warna alam. Aku rasa fenomena perubahan warna alam adalah sesuatu yang tidak asing bagi mereka yang terlibat dalam bidang fotografi, betul tak? Waktu Subuh Sebagai contoh, pada waktu Subuh alam berada dalam spektrum warna biru muda yang bersamaan dengan frekuensi tiroid yang mempengaruhi sistem metabolisma tubuh. Jadi warna biru muda atau waktu Subuh mempunyai rahsia berkaitan dengan penawar/rezeki dan komunikasi. Mereka yang kerap tertinggal waktu Subuhnya ataupun terlewat secara berulang-ulang kali, lama kelamaan akan menghadapi masalah komunikasi dan rezeki. Ini kerana tenaga alam iaitu biru muda tidak dapat diserap oleh tiroid yang mesti berlaku dalam keadaan roh dan jasad bercantum (keserentakan ruang dan masa) - dalam erti kata lain jaga daripada tidur. Di sini juga dapat kita cungkil akan rahsia diperintahkan solat di awal waktu. Bermulanya saja azan Subuh, tenaga alam pada waktu itu berada pada tahap optimum. Tenaga inilah yang akan diserap oleh tubuh melalui konsep resonan pada waktu rukuk dan sujud. Jadi mereka yang terlewat Subuhnya sebenar sudah mendapat tenaga yang tidak optimum lagi. Waktu Zohor Warna alam seterusnya berubah ke warna hijau (Isyraq & Dhuha) dan kemudian warna kuning menandakan masuknya waktu Zohor. Spektrum warna pada waktu ini bersamaan dengan frekuensi perut dan hati yang berkaitan dengan sistem penghadaman. Warna kuning ini mempunyai rahsia yang berkaitan dengan keceriaan. Jadi mereka yang selalu ketinggalan atau terlewat Zuhurnya berulang-ulang kali dalam hidupnya akan menghadapi masalah di perut dan hilang sifat cerianya. Orang yang tengah sakit perut ceria tak? Waktu Asar Kemudian warna alam akan berubah kepada warna oren, iaitu masuknya waktu Asar di mana spektrum warna pada waktu ini bersamaan dengan frekuensi prostat, uterus, ovari dan testis yang merangkumi sistem reproduktif. Rahsia warna oren ialah kreativiti. Orang yang kerap tertinggal Asar akan hilang daya kreativitinya dan lebih malang lagi kalau di waktu Asar ni jasad dan roh seseorang ini terpisah (tidur la tu). Dan jangan lupa, tenaga pada waktu Asar ni amat diperlukan oleh organ-organ reproduktif kita. Waktu Magrib Menjelang waktu Maghrib, alam berubah ke warna merah dan di waktu ini kita kerap dinasihatkan oleh orang-orang tua agar tidak berada di luar rumah. Ini kerana spektrum warna pada waktu ini menghampiri frekuensi jin dan iblis (infra-red) dan ini bermakna jin dan iblis pada waktu ini amat bertenaga kerana mereka resonan dengan alam. Mereka yang sedang dalam perjalanan juga seelok-eloknya berhenti dahulu pada waktu ini (solat Maghrib dulu la) kerana banyak interferens (pembelauan) berlaku pada waktu ini yang boleh mengelirukan mata kita. Rahsia waktu Maghrib atau warna merah ialah keyakinan, pada frekuensi otot, saraf dan tulang. Waktu Isyak Apabila masuk waktu Isyak, alam berubah ke warna Indigo dan seterusnya memasuki fasa Kegelapan. Waktu Isyak ini menyimpan rahsia ketenteraman dan kedamaian di mana frekuensinya bersamaan dengan sistem kawalan otak. Mereka yang kerap ketinggalan Isyaknya akan selalu berada dalam kegelisahan. Alam sekarang berada dalam Kegelapan dan sebetulnya, inilah waktu tidur dalam Islam. Tidur pada waktu ini dipanggil tidur delta di mana keseluruhan sistem tubuh berada dalam kerehatan. Qiamullail Selepas tengah malam, alam mula bersinar kembali dengan warna putih, merah jambu dan seterusnya ungu di mana ianya bersamaan dengan frekuensi kelenjar pineal, pituitari, talamus dan hipotalamus. Tubuh sepatutnya bangkit kembali pada waktu ini dan dalam Islam waktu ini dipanggil Qiamullail. Begitulah secara ringkas perkaitan waktu solat dengan warna alam. Manusia kini sememangnya telah sedar akan kepentingan tenaga alam ini dan inilah faktor adanya bermacam-macam kaedah meditasi yang dicipta seperti taichi, qi-gong dan sebagainya. Semuanya dicipta untuk menyerap tenaga-tenaga alam ke sistem tubuh. Kita sebagai umat Islam sepatutnya bersyukur kerana telah di’kurniakan’ syariat solat oleh Allah s.w.t tanpa perlu kita memikirkan bagaimana hendak menyerap tenaga alam ini. Hakikat ini seharusnya menginsafkan kita bahawa Allah s.w.t mewajibkan solat ke atas hamba-Nya atas sifat pengasih dan penyayang-Nya sebagai pencipta kerana Dia tahu hamba-Nya ini amat-amat memerlukan-Nya. Adalah amat malang sekali bagi kumpulan manusia yang amat cuai dalam menjaga solatnya tapi amat berdisiplin dalam menghadiri kelas taichinya Dari: USTAZ NOR AMIN SAYANI BIN ZAINAL

99 Nama Allah

{6 notes}

01 Ar-Rahman -Yang Maha Pemurah
02 Ar-Rahim -Yang Maha Mengasihi
03 Al-Malik -Yang Maha Menguasai
04 Al-Quddus -Yang Maha Suci
05 Al- Sallam -Yang Maha Selamat Sejahtera
06 Al-Mu’min -Yang Maha Melimpahkan Keamanan
07 Al-Muhaimin -Yang Maha Pengawal serta Pengawas
08 Al-Aziz -Yang Maha Berkuasa
09 Al-Jabbar -Yang Maha Kuat
10 Al-Mutakabir -Yang Melengkapi Segala Ke Besarannya
11 Al-Khaliq -Yang Maha Pencipta
12 Al-Bari -Yang Maha Menjadikan
13 Al-Musawwir -Yang Maha Pembentuk
14 Al-Ghaffar -Yang Maha Pengampun
15 Al-Qahhar -Yang Maha Perkasa
16 Al-Wahhab -Yang Maha Penganugerah
17 Al-Razzaq -Yang Maha Pemberi Rezeki
18 Al-Fattah -Yang Maha Pembuka
19 Al-‘Alim -Yang Maha Mengetahui
20 Al-Qabidh -Yang Maha Pengekang
21 Al-Basit -Yang Maha Melimpah Nikmat
22 Al-Khafidh -Yang Maha Perendah (Pengurang)
23 Ar-Rafi’ -Yang Maha Peninggi
24 Al-Mu’izz -Yang Maha Mengasihi dan menghormati (Memuliakan)
25 Al-Muzill -Yang Maha Menghina
26 As-Sami’ -Yang Maha Mendengar
27 Al-Basir -Yang Maha Melihat
28 Al-Hakam -Yang Maha Mengadili
29 Al-‘Adl -Yang Maha ‘Adil
30 Al-Latif -Yang Maha Lembut serta Halus
31 Al-Khabir -Yang Maha Mengetahui
32 Al-Halim -Yang Maha Penyabar
33 Al-‘Azim -Yang Maha Agung
34 Al-Ghafur -Yang Maha Pengampun
35 Asy-Syakur -Yang Maha Bersyukur
36 Al-‘Aliy -Yang Maha Tinggi serta Mulia
37 Al-Kabir -Yang Maha Besar
38 Al-Hafiz -Yang Maha Memelihara
39 Al-Muqit -Yang Maha Menjaga
40 Al-Hasib -Yang Maha Penghitung
41 Al-Jalil -Yang Maha Besar serta Mulia
42 Al-Karim -Yang Maha Pemurah
43 Ar-Raqib -Yang Maha Waspada
44 Al-Mujib -Yang Maha Pengkabul
45 Al-Wasi’ -Yang Maha Luas
46 Al-Hakim -Yang Maha Bijaksana
47 Al-Wadud -Yang Maha Penyayang
48 Al-Majid -Yang Maha Mulia
49 Al-Ba’ith -Yang Maha Membangkitkan Semula
50 Asy-Syahid -Yang Maha Menyaksi
51 Al-Haqq -Yang Maha Benar
52 Al-Wakil -Yang Maha Pentadbir
53 Al-Qawiy -Yang Maha Kuat
54 Al-Matin -Yang Maha Teguh
55 Al-Waliy -Yang Maha Melindungi
56 Al-Hamid -Yang Maha Terpuji
57 Al-Muhsi -Yang Maha Penghitung
58 Al-Mubdi -Yang Maha Pencipta dari Asal
59 Al-Mu’id -Yang Maha Mengembali serta Memulihkan
60 Al-Muhyi -Yang Maha Menghidupkan
61 Al-Mumit -Yang Mematikan
62 Al-Hayy -Yang Senantiasa Hidup
63 Al-Qayyum -Yang Hidup serta Berdiri Sendiri
64 Al-Wajid -Yang Maha Penemu
65 Al-Majid -Yang Maha Mulia
66 Al-Wahid -Yang Maha Esa
67 Al-Ahad -Yang Tunggal
68 As-Samad -Yang Menjadi Tumpuan
69 Al-Qadir -Yang Maha Berupaya
70 Al-Muqtadir -Yang Maha Berkuasa
71 Al-Muqaddim -Yang Maha Menyegera
72 Al-Mu’akhkhir -Yang Maha Penangguh
73 Al-Awwal -Yang Pertama
74 Al-Akhir -Yang Akhir
75 Az-Zahir -Yang Zahir
76 Al-Batin -Yang Batin
77 Al-Wali -Yang Wali / Yang Memerintah
78 Al-Muta’ali -Yang Maha Tinggi serta Mulia
79 Al-Barr -Yang banyak membuat kebajikan
80 At-Tawwab -Yang Menerima Taubat
81 Al-Muntaqim -Yang Menghukum (mereka yang bersalah)
82 Al-‘Afuw -Yang Maha Pengampun
83 Ar-Ra’uf -Yang Maha Pengasih serta Penyayang
84 Malik-ul-Mulk -Pemilik Kedaulatan Yang Kekal
85 Dzul-Jalal-Wal-Ikram -Yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan
86 Al-Muqsit -Yang Maha Saksama
87- Al-Jami’ -Yang Maha Pengumpul
88- Al-Ghaniy -Yang Maha Kaya serta Serba Lengkap
89- Al-Mughni -Yang Maha Mengkayakan dan Memakmurkan
90 Al-Mani’ -Yang Maha Pencegah
91 Al-Darr -Yang Mendatangkan Mudharat
92 Al-Nafi’ -Yang Memberi Manfaat
93 Al-Nur -Yang bercahaya
94 Al-Hadi -Yang Memimpin dan Memberi Pertunjuk
95 Al-Badi’ -Yang Maha Pencipta Yang Tiada BandinganNya
96 Al-Baqi -Yang Maha Kekal
97 Al-Warith -Yang Maha Mewarisi
98 Ar-Rasyid -Yang Memimpin (Ke arah Kebenaran)
99 As-Sabur -Yang Maha Penyabar

Jenis-Jenis Bida’ah

{1 note}

Haliyya - mencari kerasukan zauk dengan cara menari, menyanyi, menjerit dan bertepuk tangan. Mereka mendakwa syeikh mereka berada dalam suasana yang mengatasi batasan hukum agama. Jelas sekali mereka terpesung jauh daripada perjalanan Nabi s.a.w yang dalam tindak tanduk mematuhi hukum agama.

Awliya’iyya - mendakwa mereka berada dalam kehampiran dengan Allah dan mengatakan bila hamba hampir dengan Tuhan semua kewajipan agama terangkat daripada mereka. Seterusnya mereka mendakwa seorang wali, orang yang hampir dengan Allah, menjadi sahabat akrab-Nya, mempunyai kedudukan yang lebih tinggi daripada nabi. Mereka mengatakan ilmu sampai kepada Rasulullah s.a.w melalui Jibrail sementara wali menerima ilmu secara langsung dari Tuhan. Pandangan salah tentang suasana mereka dan apa yang mereka sifatkan kepada diri mereka adalah dosa mereka yang paling besar yang membawa mereka kepada bidaah dan kekufuran.

Syamuraniyya - percaya dunia ini kekal abadi, dan sesiapa yang mengucapkan perkataan abadi akan terlepas daripada tuntutan agama, lagi mereka tidak ada hukum halal dan haram. Mereka menggunakan alat musik dalam upacara ibadat mereka. Mereka tidak memisahkan lelaki dengan perempuan. Mereka tidak membezakan dua jantina itu. Mereka adalah kumpulan kafir yang tidak boleh diperbetulkan lagi.

Hubiyya - mengatakan bila manusia sampai ke peringkat cinta mereka bebas daripada semua kewajipan agama. Mereka tidak menutup kemaluan mereka.

Huriyya - seperti Haliyya, enggan menjerit, menyanyi, menari dan bertepuk tangan, mereka menjadi kerasukan dan di dalam suasana kerasukan itu mereka mendakwa mengadakan hubungan jenis dengan bidadari; bila keluar dari kerasukan mereka mandi junub. Mereka dimusnahkan oleh pembohongan mereka sendiri.

Ibahiyya - enggan mengajak kepada kebaikan dan melarang kemungkaran. Mereka menghukumkan haram sebagai halal. Mereka memahatkan pendapat ini kepada kaum perempuan. Bagi mereka semua perempuan halal bagi semua lelaki.

Mutakasiliyya - menjadikan prinsip kemalasan dan meminta sedekah dari rumah ke rumah sebagai cara mendapatkan keperluan harian mereka. Mereka mendakwa telah meninggalkan segala hal ehwal dunia. Mereka gagal dan terus gagal di dalam kemalasan mereka.

Mutajahiliyya - berpura-pura jahil dan dengan sengaja berpakaian tidak sopan, cuba menunjukkan dan berkelakuan seperti orang kafir, sedangkan Allah berfirman, “Jangan cenderung kepada yang berbuat dosa”. (Surah Hud, ayat 113). Nabi s.a.w bersabda, “Sesiapa yang cuba berlagak seperti satu kaum dia dianggap salah seorang dari mereka”.

Wafiqiyya - mendakwa hanya Allah yang boleh kenal Allah. Jadi, mereka membuang jalan kebenaran. Kejahilan yang disengajakan membawa mereka kepada kemusnahan.

Ilhamiyya - berpegang dan mengharapkan kepada ilham, meninggalkan ilmu pengetahuan, melarang belajar, dan berkata Quran adalah hijab bagi mereka, dan fikiran puisi adalah Quran mereka. Mereka meninggalkan Quran dan sembahyang, sebaliknya mengajarkan anak-anak mereka puisi.

Apakah Itu Arasy

{4 notes}

Sempadan yang memagari semua kejadian Tuhan. Apa sahaja yang Tuhan ciptakan berada di dalam pagar Arasy. Tidak ada satu pun kejadian Tuhan, baik yang nyata, yang ghaib atau yang tersembunyi berada di luar Arasy. Arasy merupakan hijab yang kukuh. Tidak ada makhluk yang berupaya menembusi Arasy untuk berdampingan atau bersekutu dengan Tuhan, walaupun makhluk itu merupakan malaikat yang paling tinggi darjatnya. Ilmu makhluk juga tidak mampu menembusi Arasy walaupun ilmu malaikat yang paling mulia. Arasy adalah daripada unsur nur yang paling latif atau paling seni, lebih seni daripada nur yang menjadi zat kejadian malaikat Jibrail. Oleh sebab itu Jibrail tidak berupaya untuk mengikuti Rasulullah s.a.w memasuki alam Arasy. Nabi Muhammad s.a.w berupaya berbuat demikian kerana roh baginda s.a.w adalah juga daripada unsur nur yang paling latif yang bersesuaian dengan Nur Arasy.

Arasy Yang Agung: Sempadan Arasy yang paling luar. Ia merupakan kejadian Tuhan yang paling besar. Ia dinamakan juga kulit atau kerangka alam.

Arasy Yang Meliputi: Sempadan Arasy yang paling luar. Ia merupakan kejadian Tuhan yang paling besar. Ia dinamakan juga kulit atau kerangka alam.

(Source: kalamislam.tk)

Bagaimana Mengenal Allah

{2 notes}

BISMILLAHHHIRAHMAANNIRRAHIIM….

Kali ini, KalamIslam ingin membantu pengunjung yang ingin memupuk rasa cinta,rindu,sayang,kasih,kenal dan memahami Allah. Seperti saya dahulu juga tercari-cari apa dan siapakah Allah. kebenarannya saya juga takut ingin menulisnya kerana bimbang ada yang tersalah faham kerana isu mengenal Allah ini wajib tetapi tidak tahu kenapa, ramai yang begitu takut untuk mengetahuinya. Mungkin kerana kita takut untuk bertanya kepada guru-guru dan untuk mencari guru-guru yang benar-benar mampu memberi kefahaman kepada kita amatlah sukar.

Bersyukur ke hadrat Illahi, sekolah-sekolah kita di Malaysia ada juga yang memberi pendedahan agama kepada kita semasa kecil walaupun sedikit. Sebenarnya apa yang diajar oleh guru-guru sekolah tentang Islam itu adalah jumlah yang kecil yang boleh juga dipanggil sebagai ‘sentuh-sentuh’ sahaja. Supaya pelajar itu kenal agama. Selebihnya perlu dicari sendiri.

Mempelajari ilmu agama ini sebenarnya seronok, malah lebih seronok dari mempelajari ilmu sains dan yang lain-lain itu kerana ilmu Allah itu merangkumi segala.

Sukatan pelajaran di Malaysia telah dibuat hanya menyentuh ilmu Qalam(luar) sahaja seperti mempelajari sejarah islam, hukum hakam, akhlak dan moral dan jarang sekali menyentuh isu ghaib kerana bimbang mampu mendatangkan syirik,kurafat dan apa-apa sahaja kepercayaan ghaib yang salah.

Percayalah, ghaib itu tidaklah salah tetapi apabila melibatkan penyembahan syaitan, terlalu percaya pada hantu melebihi percaya kepada Allah..itulah yang mendatangkan haram. Sebenarnya kepercayaan itu sama sahaja jika kita tukar

takut pada hantu/syaitan= takut pada Allah/malaikat

percaya pada sihir=percaya kepada kebolehan Ayat-ayat suci Allah

Bukankah itu sama?? cuma ada baik , ada jahat. Ada Yin ada Yang. Fikirkanlah..

Kalau kita berkata orang zaman dahulu boleh terbang dengan Izin Allah..pastinya orang itu terbang. Salahkah kita mempercayai kebesaran Allah yang menguasai segala hasil ciptaannya? adakah itu dikatakan kepercayaan kurafat?

Fikirkan.. Kita pegang pada satu perkara SEGALA YANG BERLAKU ITU DENGAN IZIN ALLAH "InsyaAllah"

Masih ragu? mari kita buka insyaAllah ini dengan cara fikiran insan biasa.

Kapal terbang itu ciptaan manusia, tanpa izin Allah yang mencipta hukum2 Alam seperti Fizik, kalau Allah tidak mengizinkan kita kenal pada momentum, inersia dan jika Allah tak mewujudkan angin mampukah kapal terbang itu terbang.

Mari kita fikir lebih dalam.. bagaimana kapal terbang yang dicipta oleh manusia yang berupa burung besi itu mampu terangkat ke udara sedangkan ia berat??

mungkin bagi orang yang tidak percaya pada Kebesaran Allah akan berkata

  • sebab kapal terbang ada sayap
  • sebab ada kipas yang membantu ia kehadapan
  • sebab rekaan badan kapal terbang itu

namun semua anggapan itu akan runtuh sekiranya anda cuba buat kapal terbang guna batu atau simen dan letakkan ciri-ciri diatas ini dan cuba buat ia terbang.

Tanpa IzinNya.. takkan mampu ia terbang..

sama juga dalam ilmu kekebalan.. pisau itu sifatnya tajam, mampu melukakan… tetapi yang mendatangkan luka itu adalah Allah. Apa akan terjadi jika Allah tak izinkan tajam itu melukakan.

Fikirkan.. itu buat sesi perkenalan membuka minda supaya anda tidak terus di pupuk oleh kata2 orang yang selalu berkata percaya kepada sesuatu yang luar biasa itu kurafat.

MARI KENAL ALLAH.

Ramai yang tidak cinta dan sayang kepada Allah kerana tidak mengenal Allah dengan dekat. Untuk mengenal Allah adalah sama caranya dengan mencuba mengenal seseorang yang kita mahu dekati. Cuma yang membezakannya adalah kita berkehendakkan mengenal seseorang itu kerana kita nampak sesuatu yang menarik perhatian kita untuk mengenalinya seperti cantiknya wajahnya, sifatnya, watak perwatakannya dan sebagainya.

Sebagai manusia kita tak terlepas untuk merasa suka selepas melihat sesuatu yang ‘kena pada hati’ kita.

kita sebagai manusia juga jarang mahu mengenali zat Allah kerana zat Allah itu tidaklah dapat diketahui oleh manusia. Namun Allah telah membenarkan sifatnya dikenali oleh manusia.. Jadi berdirinya Sifat Allah itu kerana hadirnya Zat Allah.

Hal ini menjadi perkara yang rumit kepada kita sekiranya kita berfikir secara logik. Logik itu adalah perkataan yang tiada pada kebesaran Allah. Perkataan logik itu dicipta oleh orang-orang sesat yang tiada pegangan bahawa Allah itu wujud.

Post seterusnya kita kenal Allah dari sifat Wujud. Anda Pasti terpukau.. pastikan anda bersedia untuk mengetahui sesuatu yang memerlukan KEPERCAYAAN HATI terhadap Allah.

"orang yang berkata dia kenal zat Allah itu, tidak mengenali-Nya. Orang yang berkata tidak kenal Zat Allah itu, adalah orang yang mengenali."


sekian…

..Muhammad Hafiz…

(Source: kalamislam.tk)

Biografi Nabi Muhammad S.A.W

{9 notes}

1. Bila Nabi Muhammad lahir?
 
Beliau dilahirkan pada hari Isnin, 12 Rabi Al-Awwal, April 22, 571 AC.

2. Di mana Nabi Muhammad lahir?
 
Di Makkah

3. Apa nama ayah Nabi?
 
Abdullah bin Abdul Muttalib.

4. Apa nama ibu Nabi?
 
Aminah Bint Wahhab Ibn Abd Manaf Ibn Zahrah.

5. Bila dan di mana (nabi) ayahnya mati?
 
Dia meninggal di Madinah sebelum Muhammad (SAW) lahir.

6. Apa nama dari datuk Nabi?
 
Abdul Muttalib.

7. Apa kedudukan datuk-nya?
 
Dia adalah ketua puak Bani Hashim.

8. Apa itu garis keturunan Nabi sampai leluhur kelima?
 
Dia adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muttalib bin Hashim bin Abd Manaf bin Qushay bin Kilab.

9. Siapa yang menyusui Nabi Muhammad?
 
Pertama Thuyeba, gadis budak dibebaskan dari pamannya Abdul Uzza dikenali sebagai Abu Lahab, maka Haleema Binti Abu Dhuaib, paling dikenali sebagai Haleema Al Sadiyah.

10. Siapa yang bernama Muhammad Nabi?
 
Abdul Muttalib.

11. Apa yang (p.b.u.h.) ibu Muhammad nama dia?
 
Ahmad.

12. Mengapa ia (ibu Nabi) memilih nama ini?
 
Kerana ia melihat seorang malaikat dalam mimpi memanggil bayi Ahmad baru lahir.

13. Berapa umur Muhammad (SAW) ketika ibunya meninggal?
 
Enam tahun.

14. Mana ibunya membawanya?
 
Dia membawanya ke Yatsrib (Madinah) untuk melawat keluarganya.

15. Mana ibunya mati?
 
Dalam perjalanan kembali ke Mekah, dia meninggal di Abwa ‘dan dikuburkan di sana.

16. Yang membawa Muhammad (p.b.u.h.) kembali ke Mekah?
 
gadis budak ayahnya, Umm Aiman ​​(Semoga Allah senang dengan dia).

17. Yang mengambil tanggungjawab menjaga nya?
 
Datuknya Abdul Muttalib.

18. Berapa lama datuk Nabi jaga Nabi Muhammad?
 
Selama dua tahun.

19. Bagaimana (Abdul Muttalib’s) perilakunya dengan Muhammad (SAW)?
 
Dia sangat mencintainya dan menjaga dia seperti anak sendiri.

20. Apa yang Abdul Muttalib meramalkan tentang cucunya?
 
Bahawa ia akan memegang kedudukan yang berprestij.

21. Yang menjaga Nabi (saw) selepas kematian Abdul Muttalib?
 
Pamannya Abu Talib.

22. Berapa umur Muhammad (SAW) ketika datuknya Abdul Muttalib meninggal?
 
Sekitar lapan tahun.

23. Bila Muhammad (SAW) perjalanan ke Syria dan dengan siapa?
 
Dia pergi ke Syria dengan pamannya Abu Talib ketika dia berumur dua belas tahun.

24. Siapa Khadijah (Semoga Allah senang dengan dia)?
 
Dia adalah seorang saudagar kaya dari Makkah.

25. Mengapa ia (Khadijah) ingin berkahwin dengan Muhammad (SAW)?
 
Kerana kebenaran dan melakukan yang baik.

26. Bila dia (Khadijah) menikahi Muhammad (SAW)?
 
Ketika dia berumur 40 tahun.

27. Berapa umur Muhammad (SAW) pada saat pernikahan?
 
Dia 25.

28. Apa yang dia (Nabi) memberi dia (Khadijah) sebagai mahar (mas kawin)?
 
Dua puluh unta.

29. Apakah Khadijah
(Semoga Allah senang dengannya) seorang janda?
 
Ya. Nabi (S.A.W) adalah suami ketiganya.

30. Bagaimana Muhammad
(S.A.W) dikenal masyarakat?
 
Dia dikenali sebagai Al Amin (boleh dipercayai) dan Al Shadiq (benar).

31. Apakah dia mendapatkan semacam pendidikan?
 
Tidak, ia tidak mendapatkan pendidikan formal dari masyarakat, bukan dia diajar oleh Allah SWT.

32. Apa yang harus disebut
 pada bila-bila  nama Nabi disebutkan?
 
Seseorang harus mengatakan صلى الله عليه وسلم (Semoga damai dan berkat Allah bersama-sama).

33. Berapa kali adalah nama Muhammad yang disebutkan dalam Al-Quran?
 
Empat kali.

34. Apa nama paman Nabi (saw)?
 
Mereka adalah: Harith, Zubair, Abu Talib, Hamzah (Semoga Allah senang dengan dia), Abu Lahab, Ghidaq, Maqwam, Safar dan Abbas (Semoga Allah senang dengan dia).

35. Dalam Perjanjian Baru dengan apa yang namanya Nabi (saw) menyebutkan?
 
Dengan nama Parakletos.

36. Apa itu Kaabah?
 
Ini adalah rumah ibadah tertua di bumi.

37. Siapa yang membinanya?
 
Nabi Ibrahim dan puteranya Ismail (Semoga Allah senang dengan mereka).

38. Bagaimana menetapkan Quraisy membina semula Kaabah?
 
Mereka membagi pekerjaan di antara pelbagai suku. Masing-masing suku bertanggung jawab untuk membina semula sebahagian daripada itu.

39. Siapa yang meletakkan batu?
 
Seorang tukang batu bernama Byzantine Baqum.

40. Mana Nabi (saw) pergi mengasingkan diri?
 
Untuk Gua Hira.

41. Apa tahap tinju dari wahyu itu?
 
Benar mimpi.

42. Bila wahyu pertama turun kepadanya?
 
Pada hari Isnin, 21 Ramadhan, pada malam hari (10 Ogos, 610 AC). Dia empat puluh tahun kemudian.

43. Siapa yang membawanya?
 
Jibrael.

44. Siapakah yang pertama memeluk Islam?
 
Empat orang: Khadijah isterinya, Zaid Ibn Haritha budaknya dibebaskan, Ali bin Abi Talib sepupunya dan Abu Bakr temannya (Semoga Allah senang dengan mereka).

45. Siapa yang menerima Islam pada contoh Abu Bakar (Semoga Allah senang dengan dia)?
 
Uthman Ibn Affan, Zubair Ibnu Awwam, Abdur Rahman bin Auf, Sad Ibn Abi Waqqaas, Talha Ibn Ubaidullah dan Saeed Ibn Zaid (putra Umar mertua) (Semoga Allah senang dengan mereka).

46. Siapakah wanita untuk menerima Islam pada awalnya?
 
Abbas isteri Ummaul Fadl, isteri Abu Bakar Asma Binti Umais, putrinya Asma Binti Abi Bakar dan adik Fatimah Bint Al Khattab Umar (Semoga Allah senang dengan mereka).

47. Bagaimana adalah dakwah dilakukan di awal?
 
Hal itu dilakukan secara rahsia.

48. Berapa banyak orang memeluk Islam pada peringkat awal?
 
Sekitar empat puluh.

49. Berapa tahunkah panggilan secara rahsia teruskan?
 
Selama tiga tahun.

50. Selama tempoh ini, di mana umat Islam berkumpul diam-diam?
 
Mereka akan mengumpul diam-diam di rumah seorang muslim bernama Arqam untuk belajar tentang Islam dan diturunkan wahyu kepada Nabi (saw).

51. Bila Nabi (saw) mulai memberitakan Islam secara terbuka?
 
Setelah tiga tahun ketika ia menerima wahyu mengenai hal itu.

52. Apa kesan dari pemberitaan awam?
 
Orang-orang menerima Islam semakin.

53. Apa mukjizat utama Nabi (saw)?
 
Al-Quran.

54. Adakah Nabi (saw) melakukan satu mukjizat yang lain?
 
Ya, pemisahan bulan adalah salah satu daripada mereka.

55. Siapa Hamzah bin Abdul Muttalib?
 
Salah satu (p.b.u.h.) paman Nabi.

56. Nama beberapa orang kafir Mekah yang menyokong Nabi (saw), tetapi tidak memeluk Islam sampai akhir.
 
Abu Talib, Ibnu Mutim Adi dan Abul Bukhtari.

57. Berapa lama Abu Talib melindungi Nabi (saw)?
 
Untuk 42 tahun - mulai dari masa kanak-kanak Nabi sampai dia sendiri meninggal.

58. Siapa Adi Ibnu Mutim?
 
Seorang ketua Mekah.

59. Bila dia (Mutim Ibnu Adi) memberi perlindungan kepada Nabi (saw)?
 
Ketika Nabi (saw) kembali dari Taif dan ingin masuk Mekah.

60. Bila dia (Mutim Ibnu Adi) mati?
 
Ia tewas dalam Perang Badar

61. Siapa Bukhtari Abul?
 
Dia adalah seorang penyair.

62. Bagaimana dia (Abul Bukhtari) menyokong Nabi Muhammad (SAW)?
 
Dia bercakap menentang boikot sosial.

63. Apa yang memimpin umat Islam untuk berhijrah ke Abyssinia?
 
Mereka tumbuh penganiayaan di tangan Quraisy.

64. Surah yang mengakibatkan emigrasi ini?
 
Surah Az-Zumar.

65. Bila Abul Bukhtari dibunuh?
 
Dalam perang Badar.

66. Yang saat itu Raja Abyssinia?
 
Raja Abyssinia, yang dikenali sebagai Najjashi (Negus), pada masa Nabi (saw) adalah As’hama.

67. Bila kumpulan muslim pertama berangkat Abyssinia?
 
Dalam Rejab, pada tahun kelima kenabian.

68. Berapa banyak orang yang ada dalam kumpulan?
 
12 lelaki dan 4 wanita.

69. Bagaimana para pendatang diterima di Abyssinia?
 
Mereka disambut dengan hangat dan ramah.

70. Bila kumpulan kedua pendatang berangkat Abyssinia?
 
Pada tahun kelima dari kenabian.

71. Berapa banyak orang membentuk kelompok?
 
83 lelaki dan 18 wanita.

72. Nama pendamping terkemuka termasuk dalam kelompok ini.
 
Jaafar bin Abi Talib
(Semoga Allah senang dengannya).

73. Apa Quraisy lakukan?
 
Mereka dihantar dua utusan ke Abyssinia untuk menuntut ekstradisi dari pendatang.

74. Bagaimana Raja merespon?
 
Dia menolak untuk mengekstradisi kaum muslimin dan meyakinkan mereka perlindungan penuh.

75. Bila Umar
(Semoga Allah senang dengannya)menerima Islam?
 
Pada usia 27.

76. Siapa Bilal Ibn Rabah
(Semoga Allah senang dengannya)?
 
Dia adalah seorang budak dari Umayyah Ibnu Khalaf.

77. Apa yang dia (Bilal Ibn Rabah’s) asal?
 
Dia adalah Abyssinian layak.

78. Apa nama ibu Bilal?
 
Hamama.

79. Siapa Yaser
(Semoga Allah senang dengannya)?
 
Dia adalah budak Abu Jahl.

80. Siapa Sumayyah
(Semoga Allah senang dengannya)?
 
Dia Yaser’s (seorang budak Abu Jahl) isteri.

81. Siapa Ammar (Semoga Allah senang dengannya)?
 
Dia adalah anak hanya Yaser dan Sumayyah’s.

82. Bagaimana Summaya
(Semoga Allah senang dengannya) mati?
 
Abu Jahl membunuh nya dengan bayonet(sulaan).

83. Siapa Zaid Ibn Haritha (Semoga Allah suka dengan dia)?
 
Dia adalah seorang hamba.

84. Siapa yang dibeli dia (Zaid Ibn Haritha)?
 
keponakan Khadijah Hakim Ibn Hizam dibeli dia dan memberinya kepadanya.

85. Apa Khadijah lakukan dengan Zaid Bin Haritha?
 
Dia memberinya kepada Nabi yang membebaskannya.

86. Apakah Zaid Bin Haritha ingin pergi kepada orang tuanya?
 
Tidak, ia lebih suka tinggal bersama Nabi (saw).

87. Untuk siapa Zaid Bin Haritha berkahwin?
 
Untuk Umma Aiman ​​(Semoga Allah senang dengannya).

88. Siapa Jaafar?
 
Dia adalah abang kepada Ali bin Talib
(Semoga Allah senang dengannya).

89. Dimana dia (Ja’far) pindah?
 
Untuk Abyssinia.

90. Siapa Ali
(Semoga Allah senang dengannya)?
 
Ia adalah putra Abu Talib dan sepupu Nabi (saw).

91. Bila Ali
(Semoga Allah senang dengannya) menerima Islam?
 
Ketika ia berusia 10.

92. Apa yang dia (Ali) meminta keberaniannya?
 
"Singa Allah".

93. Siapa Ali pertama kali menikah?
 
Dia pertama kali berkahwin dengan puteri Nabi Fatimah (ra dengan dia).

94. Berapa banyak putra memang Ali mempunyai darinya?
 
Dua anak laki-laki: Hasan dan Husain (Semoga Allah senang dengan mereka).

95. Bila Sa’d bilion Abi Waqqas
(Semoga Allah senang dengannya) menjadi seorang Muslim?
 
Ketika ia 19.

96. Mana Sa’d
(Semoga Allah senang dengannya) mati?
 
Dia meninggal di Al Madinah.

97. Apa saran Sa’d untuk Muslim?
 
Untuk berdiri bersatu.

98. Siapakah ayah Abu Bakar
(Semoga Allah senang dengannya) dan dia menerima Islam?
 
Dia Uthman (Semoga Allah senang dengan dia) (Abu Quhafah). Ya, dia menerima Islam selama Penaklukan Makkah.


(Source: islamicfinder.org)

Cara Solat Rasulullah Yang Mendatangkan Kusyuk

{8 notes}

  Sedikit sebanyak ini mampu memantapkan cara dan rukun solat kita dengan lebih yakin dan tanpa was-was…selamat membaca kredit gambar sainssolat.wordpress.com

Berdiri untuk solat  Berdiri dengan lurus, kedua belah kaki sama tegak, mengarah kiblat dengan menundukkan pandangan memandang ke tempat sujud dan mengarahkan hujung-hujung jari kaki ke kiblat dengan merenggangkan antara dua kaki(jangan sangat dirapatkan dan jangan sangat dijauhkan.   

Takbiratul ihram  Takbiratul ihram ialah mengangkat tangan dan meletakkan tangan dalam solat.  Apabila hendak bertakbiratul ihram, angkatlah kedua belah tangan ke daun telinga sejajar dengan bahu dengan mengarahkan anak-anak kedua tanagn ke kiblat serta mengembangkannya. Sesudah itu ucapkanlah takbiratul ihram: Allaahu Akbar”Allah adalah terbesar dari segala yang besar”.  Setelah selesai ucapan takbir, turunkan tangan dengan perlahan-lahan dan letakkan di atas dada dengan menggenggamkan pergelangan tangan kiri dengan kelingking, jari manis, jari tengah dan ibu jari tangan kanan, serta mengulurkan telunjuk tangan kanan atas tangan kiri itu.   

Cara mengangkat tangan ini ada tiga: 

1. Mengangkatnya beserta permulaan takbir. 

2. Mengangkatnya dengan tidak bertakbir. Sesudah kedua-dua tangan tetap, barulah bertakbir. Sesudah selesai bertakbir barulah tangan diturunkan. 

3. Mengangkat tangan beserta permulaan takbir dan selesai mengangkat tangan beserta selesai takbir.

Sesudah selesai takbir, barulah tangan diturunkan.   

Dari Ibnu Umar r.a. katanya:  “adalah Rasulullah apabila telah berdiri untuk bersolat, beliau mengangkat kedua tangannya, kemudian baru bertakbir.” [Shahih Muslim]  Rasulullah apabila berdiri untuk solat, beliau mengucapkan Allahu Akbar, beliau tidak mengucapkan apa-apa sebelumnya dan tidak pula melafalkan niat.

Beliau tidak mengucapkan: usalli-lillahi-kadza-mustaqbilal qiblati-arba’a raka’atin-imama/makmuma-ada’an-qadhaan-fardhal waqti. Kata-kata ini bidaah. Tidak ada seorangpun menukilkan dari Rasulullah s.a.w. baik dengan sanad sahih, daif, musnad atau mursal.

Demikian juga tidak dinukilkan dari seorang sahabat. Hal itu juga tidak dipandang baik oleh seseorang Tabi’in dan tidak pula oleh imam empat.

Hanya sebahagian ulama mutaakhirin salah memahamkan pendapat As-Syafie yang mengatakan bahawa:  Solat tidak sama dengan puasa. Tiap-tiap orang yang masuk ke dalam solat dengan ucapan zikir.”  Mereka menyangka bahwa yang dimaksudkan dengan zikir ialah melafalkan niat oleh mereka yang hendak bersolat itu. Sebenarnya As-Syafie bermaksud dengan zikir ialah ucapan takbiratul ihram. Beliau juga tidak menyukai susuatu yang tidak pernah dilaksanakan Rasulullah s.a.w. walupun dalam satu solat saja tidak pula dilakukan oleh seorang Khilafa ataupun oleh salah seorang sahabat.  Yang lebih buruk lagi ialah mengulang-ulangi lafal niat hingga terkadang memakan masa satu rakaat solat dan mengganggu orang di sekelilingnya. 

Iftitah dalam solat

Raulullah s.a.w.setelah takbiratul ihram, berdiam agak lama tidak terus membaca Al-Fatihah. Di dalam diam itu baginda membaca iftitah.


Tasbih iftitah

Sub-haanakallahumma wa bihamdika wa tabaa rakasmuka wa ta’aala jadduka wa laa ilaaha ghairuka. “Maha suci Engkau wahai Tuhanku, serta aku memuji-Mu. Sungguh Maha Berbahagia nama Engkau, Maha Tinggi Kebesaran Engkau dan mengaku benar-benar bahawa tidak ada Tuhan selain Engkau.” [HR Muslim]


Doa iftitah

Allaahumma baa’id baini wa baina kha-thaayaa ya kamaa baa-atta bainal masy-riqi wal maghribi. Allaahumma naqqinii min kha-thaayaa ya kamm yunaqqats tsaubul abya-dhu minaddanasi. Allaahummaghsil nii min kah-thaayaa ya bil wats tsalji wal baradi.

“Wahai Tuhan-ku! Jauhkanlahantaraku dan antara kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau telah jauhkan antara Masyriq (tempat terbit matahari) dan dari kesalahan-kesalahanku, sebagaimana orang membersihkan kain putih dari pencemaran.Wahai Tuhan-ku! Basuhkanlah kesalahan-kesalahanku dengan air, dengan salji dan dengan air batu dengan sebersih-bersihnya.” [HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a.]

Allaahumma rabba jib-riila wa miikaa-iila wa is-raafiila faa-thiras samaawaati wal ar-dhi ‘aalimal ghaibi wasy syahaa dati anta tahkumu baina ‘baadika fiima kaanuu fiihi yakhtalifuuna ihdinii limakh tulifa fiihi minal haqqi bi-idznika fa innaka tahdii man ta-syaa-u ilaa shiraatim mustaqiim.

“Wahai Tuhan-ku! Tuhan dari Jibril, Mikail, dan Israfil, Tuhan yang menjadikan langit dan bumi, Tuhan yang Maha Mengetahui alam yang tiada didapati pancaindera dan alam yang nyata, Engkau yang memberi putusan antara hamba-hamba Engkau, dalam segala rupa hal yang mereka perselisihkan, dengan izin-Mu, kerana sesungguhnya Engkau-lah sendiri yang menunjukkan sesiapa yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus.” [HR Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah dari Abdur Rahman ibn Auf ra.]


Doa tawajjuh

Wajjahtu waj-hiya lillazii fa-tharas samaawaati wal ar-dha haniifam muslimaw wamaa ana minal musy-rikiin. Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil ‘aalamiin. Laa syariika lahuu wa bi-dzaalika umirtu wa ana minal mus-limiin. Allahumma antal maliku laa ilaaha illa anta anta rabbii wa ana ‘abduka zhalamtu nafsii wa’taraftu bi-dzambii faghfir lii dzunuubii jamii’aa. Fa innahuu laa yahdii li ahsanihaa illaa anta wash-rif ‘annii sayyi-ahaa laa yash-rifu ‘annii sayyi-ahaa illa anta, labaika wa sa’daika wal khairu kulluhu fii yadaika, wasy syarru laisa ilaika, ana bika wa ilaika tabaarakta wa ta’aalaita, astaghfiruka wa atuubu ilaika.

“Saya hadapkan diriku kepada Tuhan yang telah menjadikan langit dan bumi, hal keadaanku seorang yang condong benar kepada kebenaran lagi seorang yang menyerahkan diri, tunduk dan patuh, dan sekali-kali aku bukan orang yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah .Bahwasanya solatku, ibadatku, hidupku dan matiku adalah untuk Allah , Tuhan yang memelihara alam, tidak ada sekutu bagi-Nya, demikianlah aku diperintahkan Allah, dan adalah aku salah seorang dari orang-orang, yang mula-mula menyerahkan diri, jiwa dan raga untuk Allah (untuk berjihad di jalan-Nya). Wahai Tuhan-ku! Engkaulah Raja yang memerintah! berkuasa! Tidak ada tuahn selain Engkau, Engkau Tuhan-ku dan aku hamba-Mu. Aku telah menzalimkan diriku, aku mengakui dosaku, maka ampunilah segala dosa-dosaku, sesungguhnya tidak ada yang dapat (sanggup) mengampuni dosa-dosaku selain Engkau. Dan tunjukanlah daku kepada sebaik-baik perangai, tidak ada yang dapat (sanggup) menunjukankan daku kepada sebaik-baik perangai, selain Engkau sendiri.Palingkanlah (jauhkanlah) daripadaku pekerti-pekerti yang buruk, tidak ada yang dapat (sanggup) memalingkan daku dari pekerti-pekerti yang buruk itu, selain Engkau sendiri.Aku penuhi seruan Engkau, aku tunduk patuh di bawah perintah Engkau segala rupa kebajikan di tangan Engkau, segala rupa kejahatan tidak ada pada Engkau, Aku dengan Engkau dan kepada Engkau.(saya memperoleh taufiq dengan limpah kurnia Engkau dan memohon perlindungan kepada Engkau.)Maha Berbahagia Engkau dan Maha Tinggi. Aku memohonkan ampun kepada Engkau dan aku bertaubat kepada Engkau.” [HR Ahmad, Muslim, Ar-Tirmidzi, Abu Daud dari Abu Hurairah ra. dari Nabi s.a.w. (dalam satu lafal: wa ana awwalul muslimin= “dan akulah orang yang mula-mula menyerahkan diri kepada Allah“]

Takbir ifitah

1. Allahu Akbar. Kabiiraw wal hamdu lillaahi ka-tsiiraw wa subhaanallaahi buk-rataw wa a-shiilaa. “Allah adalah yang paling besar dari segala yang besar, sedang Dia Tuhan yang senantisa besar, segala puji hanya kepunyaan Allah, pujian yang banyak, dan Maha Suci Allah (aku akui kesucian) pada tiap-tiap pagi dan petang.” [HR Muslim dari Ibnu Umar]

2. Allahu Akbar. Allahu Akbar..Laa ilaaha illaa anta. Sub-haanallaahi wa bihamdihi Sub-haanallaahi wa bihamdihi. “Allah adalah yang teramat besar, bagi Allah yang teramat besar, tidak ada Tuhan selain Engkau, tidak ada Tuhan selain Engkau!Saya akui kesucian Allah serta dengan memuji-Nya Saya akui kesucian Allah serta dengan memuji-Nya” [Takbir ini disebutkan dalam Ibnul Qayyim dalam kitab Ash Shalah wa Ahkamu Tarikiha.]

3. Allahu Akbar kabiiraa. Allahu Akbar kabiiraa. Allahu Akbar kabiiraa. Alhamdu lillaahi ka-tsiraa. Alhamdu lillaahi ka-tsiraa. Alhamdu lillaahi ka-tsiraa. Sub-haanallaahi buk-rataw wa a-shiilaa. Sub-haanallaahi buk-rataw wa a-shiilaa. Sub-haanallaahi buk-rataw wa a-shiilaa.A’uu-dzu billaahis samii’il ‘aliimi minasy syai-thaanir rajiimi wa naf-khihi wa nafa-tsihi.

“Allah adalah yang terbesar dari segala yang besar, sedang Dia yang senantiasa Besar. Allah adalah yang terbesar dari segala yang besar, sedang Dia yang senantiasa Besar. Allah adalah yang terbesar dari segala yang besar, sedang Dia yang senantiasa Besar. Segala puji kepunyaan Allah, pujian yang banyak, Segala puji kepunyaan Allah, pujian yang banyak, Segala puji kepunyaan Allah, pujian yang banyak, Saya akui kesucian Allah pada tiap-tiap pagi dan petang, Saya akui kesucian Allah pada tiap-tiap pagi dan petang, Saya akui kesucian Allah pada tiap-tiap pagi dan petang.

Wahai Tuhan-ku, saya berlindung kepada Engkau dari setan yang terkutuk, dan gurisan-gurisannya dan tiupan-tiupannya dan hembsan-hembusannya.” [HR Ahmad, Abu Daud dari ibn Jubair ibn Muth’im dari Nabi s.a.w.]

4. Allaahu akbar, sub-haanallaah, al hamdulilaah, laa ilaaha illaallaah, astaghfirullaah, allaahummaghfir lii war hamnii war zuqnii, alaahumma innii a’uu-dzubika min dhiiqil maqaami yaumal qiyaamah. “Allah adalah yang terbesar dari segala yang Besar-Aku mengakui kesucian alla.

Segala puji kepunyaan Allah. Tidak ada Tuhan yang sebenarnya berhak disembah selain Allah.Wahai Tuhan, ampunilah daku, rahmatilah daku dan rezekikanlah daku. Wahai Tuhan-ku sesungguhnya akau berlindung kepada Engkau dari kesempitan tempat berdiri pada hari kiamat.”

(masing-masing dari takbir, tasbih, tahmid, tahlil, istighfar dan dua rangkaian doa ini dibaca 10 kali) [HR Abu Daud, An-Nasa’i, Ibnu Majah dari Ashim ibn Humaid dari Aisyah ra. dari Nabi s.a.w.] Ta’awwudz dalam solat

1. Asta’ii-dzu billaahi minasy syai-thaanir rajiim. “Saya memohon pertolongan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk”

2. A’uu-dzu billaahi minasy syai-thaanir rajiimi min hamzihi wa nafkhihi wa nafa-tsihi. “Saya berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk, dari goresannya, dari tiupan-tiupannya dan dari hembusan-hembusannya.” 3. A’uu-dzu billaahis samii’il ‘aliim minasy syai-thaanir rajiim. “Saya berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari syaitan yang kena rejam” 4. Alaahumma innii a’uu-dzubika minasy syai-thaanir rajiimi min hamzihi wa nafkhihi wa nafa-tsihi” “Wahai Tuhan-ku! Sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari syaitan yang terkutuk, dari gurisannya, dari tiupan-tiupannya dan dari hembusan-hembusannya.” * Adalah Rasulullah membacanya pada rakaat pertama sahaja Membaca basmalah dalam solat Baca dengan merendahkan suara, jangan mengeraskannya. Bismillaahir rahmaanir rahiim. “Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Mengasihi”

Membaca Al-Fatihah dalam solat

Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin. Arrahmaanir rahiim. Maaliki yaumiddin. Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin. Ihdinash shiraa-thal mustaqiim.. Shiraa-thal la-dziina an’amta ‘alaihim ghairil magh-dhuubi ‘alaihim wa ladh dhaalliin.

“Segala puji hanya kepunyaan Allah, Tuhan yang memelihara segala alam. Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang mempunyai hari pembalasan. Engkaulah yang kami sembah dan kepada Engkaulah kami meohon pertolongan. Ya Allah, tunjuki kami pada jalan yang lurus. Iaitu jalan segala mereka yang telah Engkau beri nikmat. Bukan jalan orang-orang yang dibenci dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat.”

Berta’min dalam solat

Abu Hurairah ra. menerangkan: “bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda : “Apabila imam membaca amin, hendaklah kamu membacanya, kerana seseorang yang bersamaan aminnya dengan amin malaikat, diampunilah dosanya yang telah lalu.” [HR Al-Jamaah] Panjangkan bacaan aamiin. [HR Ahmad, Abu Daud, dan At-Tirmidzi]

Membaca surah dalam solat

1. Rasulullah s.a.w. terkadang-kadang membaca surah yang panjang, terkadang yang sederhana, terkadang yang pendek apabila dikehendaki oleh keadaan.

2. Rasulullah s.a.w. sentiasa membaca surah pada awalnya, tidak memulai dari pertengahan atau akhirnya.

3. Rasullulah s.a.w. pernah membaca surah Al A’raf di solat maghrib, sebahagian di rakaat pertama dan sebahagian di rakaat kedua.

4. Rasullulah s.a.w. pernah membaca Surah al-Zalzalah di kedua-dua rakaat solat Subuh.

5. Rasullulah s.a.w. pernah membaca dua-dua surat dari surah Al Mufashshal di satu-satu rakaat.

6. Rasullulah s.a.w. memanjangkan bacaan surat di solat Subuh.

7. Rasullulah s.a.w. memanjangkan bacaan di solat Subuh pada tiap-tiap hari, lebih panjang daripada segala solat fardhu yang lain pada hari itu.

8. Rasullulah s.a.w.pernah membaca dalam solat sir surah yang ada di dalamnya sujud tilawah. Baginda bersujud dan para makmum ikut bersujud.

9. Surah terpendek yang dibaca baginda dalam solat Subuh ialah surah Qaf dan surah-surah yang sepertinya. Lazimnya bacaan baginda 60 hingga 100 ayat pada tiap-tiap rakaat. Pada hari Jumaat Subuh, baginda tetap membaca surah As Sajadah pada rakaat pertama dan surah Ad Dahri/Al Insan.

10. Bacaan pada solat Zohor ialah surah Sajdah atau kira-kira 30 ayat pada tiap-tiap rakaat. Baginda pernah membaca surah Al-A’la dan Al-Lail atau Al-Buruj dan At-Tariq dan surah-surah yang sepertinya. Baginda juga pernah membaca surah Luqman dan Az-Zariyat. Pada suatu masa baginda pernah memanjangkan rakaat solat Zohor yang pertama hingga tidak terdengar suara telapak kaki pun.

11. Rasulullah membaca di solat Jumaat surah Al Jumuah dan Al Munafiqun, ada kala surah Al A’la dan Al Ghasiyah.

12. Rasulullah s.a.w. membaca di solat hari raya ialah Surah Qaaf dan Iqtarabat (Al Qamar) secara lengkap dan ada kala membaca surah Al A’la dan Al Ghasiyah.

13. Rasulullah s.a.w. membaca di solat Asar sekadar 15 ayat pada tiap-tiap rakaat. Tegasnya, sama dengan separuh Zohor jika dipendekkan dan sama dengan Zohor jika dipanjangkan.

14. Rasulullah s.a.w. pernah membaca di solat Maghrib surah Al A’raf, surah Ath Thur, surah Al Mursalat dan surah Ad Dukhan. Riwayat sahih menerangkan bahawa Rasulullah s.a.w. membaca surah Al Kafirun dan Al Ikhlas dalam sunat Maghrib.

15. Rasulullah s.a.w. pernah membaca dalam solat Isya surah Wat tini dan surah Wasy syamsi wa dhuhaaha dan surah-surah sepertinya. Sesudah membaca surah berhenti sebentar.

Rukuk dalam solat Angkat tangan seperti takbiratul ihram lalu tunduk untuk rukuk. Letakkan kedua-dua tangan ke atas kedua lutut, dengan merenggangkan anak jari-jari serta renggangkan kedua-dua siku dari rusuk. Datarkan belakang (punggung) atau menyamakan tinggi kepala dengan dataran belakang itu, jangan ditundukkan dan jangan ditinggikan. Pandangan tidak ditujukan ke kaki, tidak ke muka, namun lurus dengan letak kepala.

Bacaan dalam rukuk

1. Sub-haana rabiyal ‘a-zhiimi. “Maha suci Tuhan-ku yang Maha Besar” [H.R. Muslim dan Ashhabus Sunan dari Khudzaifah dari Nabi s.a.w.] Rasulullah s.a.w. membaca 10 kali tasbih ini dan terkadang lebih dari itu. Paling singkat jika ada keperluan sekadar 3 kali.

2. Subbuuhun qudduusur rabbul malaa-ikati war ruuh. ”Tuhan Yang Maha Suci, Tuhan Yang Maha Qudus, Tuhan Yang memelihara Malaikat dan ruh” [H.R. Muslim dari Aisyah ra.]

3. Sub-haana dzil jabaruuti wal malakuuti wal kib-riyaa-i wal ‘a-zhamati. ” Maha Suci Tuhan yang mempunyai kekerasan, kekuasaan, kebesaran dan kemuliaan.” [H.R. Ahmad, At-Tirmidzi, An Nasa’i dari Auf ibn Malik ra.]

4. Sub-haanakallaahumma rabbanaa wa bihamdika allaahummaghfir lii. ”Maha Suci Engkau wahai Tuhan-ku, wahai Tuhan kami dan dengan memuji Engkau, Ya Allah, ampunilah segala dosaku.” [H.R. Ahmad dari Aisyah ra. dari Nabi s.a.w.]

5. Allaahumma laka raka’tu, wa bika aamantu, wa laka aslamtu, wa ‘alaika tawakkaltu, anta rabbii kha-sya’a qalbii wa sam’ii wa ba-sharii wa damii wa lahmii wa azhmii wa ‘a-shabii lillaahi rabbil ‘aalamiin. ”

Wahai Tuhan-ku! Untuk Engkau aku rukuk, kepada Engkau aku beriman, kepada Engkau aku menyerahkan diri dan kepada Engkau aku bertawakal, Engkaulah Tuhan-ku. Telah tunduk jiwaku, pendengaranku, penglihatanku, darahku, dagingku, tulangku dan urat nadiku kepada Allah yang memelihara segala alam.” [H.R. Ahmad, Muslim, Abu Daud dari Ali ra. dari Nabi s.a.w.]

Beriktidal dalam solat Tegak berdiri lalu mengangkat tangan seperti takbiratul ihram seraya membaca tasmi’: Sami’allaahu liman hamidah.

“Mudah-mudahan Allah mendengar pujian orang yang memuji-muji-Nya.”

Turunkan tangan dan tegak berdiri membaca puji (tahmid) dan syukur:

1. Rabbanaa lakal hamdu. “Wahai Tuhan kami, Engkau sendirilah yang memiliki segala rupa puji.” [H.R. Ahmad,Al Bukhari, Muslim dari Abu Hurairah dari Nabi s.a.w.]

2. Allaahumma rabbanaa lakal hamdu ka-tsiiran thayyiban mubaarakan fiihi. “Wahai Tuhan-ku, wahai Tuhan kami, kepunyaan Engkaulah segala puji-pujian yang banyak, yang baik, lagi yang diberikan berkat kepadanya.” [H.R. Ahmad, Al Bukhari dari Rifa’ah ra. dari Nabi s.a.w.]

3. Allaahumma rabbanaa lakal hamdu, mil-as samaawati wa mil-al ardhi wa mil-a maa syi’ta min syai-in ba’du ahluts tsanaa-i wal majdi, ahaqqu maa qaalal ‘abdu wa kullunaa laka ‘abdun, Allaahumma laa maani’a limaa a’thaita wa laa mu’thiya limaa mana’ta wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu.

“Wahai tuhan-ku!wahai Tuhan kami! Dan bagi Engkaulah segala puji, sepenuh langit, sepenuh bumi dan sepenuh yang Engkau kehendaki sesudah itu.Engkaulah yang mempunyai puji dan kebesaran.Itulah yang paling patut menjadi ucapan hamba, semua kai adalah hamba-Mu.Ya Tuhan-ku, tidak ada yang menghalangi pemberian-Mu dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau tahankan dan tidak dapat kesungguhan manfaat kepada orang yang bersungguh-sungguh kerana dari Engkaulah segala keberuntungan dan segala kebahagiaan.” [H.R. Muslim, Ahmad, Abu Daud dari Said Al Khudri dari Nabi s.a.w.]

4. Allaahumma thahhirnii bits tsalji wal baradi wal maa-il baaridi.alaahumma thahhirnii minadz dzunuubi wal khathaayaa kamaa yunaqqats tsaubul ab-ya-dhu minal wasa-khi. “Ya Allah, sucikanlah daku dengan air beku, air batu, dan air dingin.Ya Tuhan-ku, sucikanlah daku dari segala dosa dan kesalahan, sebagaimana dibersihkan kain putih dari kotoran.” [H.R. Ahmad, Muslim dari Abdullah ibn Abi Aura ra. dari Nabi s.a.w.]

5. Lirabbiyal hamdu lirabbiyal hamdu. “Untuk Tuhan-ku segala puji untuk Tuhan-ku segala macam puji” [H.R. Abu Daud dari Hudzaifah -baginda mengulangnya sekadar lama rukuk]

Sujud dalam solat Bertakbir untuk turun sujud dengan meletakkan lutut sebelum tangan. Diantara kedua-dua tangan letakkan dahi ke tempat sujud (jarakkan sedikit). Boleh juga kepala bersetentang dengan bahu atau daun telinga.

Dahi,hidung, kedua-dua telapak tangan, kedua-dua lutut dan kedua-dua hujung jari-jari kaki. Muka (dahi dan hidung) dirapatkan ke tempat sujud dan hujung jari tangan dan kaki dihadapkan ke arah kiblat, dan hendaklah kedua-dua siku diangkat, dan hendaklah kedua-dua tangan direnggangkan dari lambung sehingga kelihatan putih ketiak, dan hendaklah perut direnggangkan dari paha dan hendaklah kedua-dua paha direnggangkan dari betis. Sabda Nabi s.a.w.:

“Aku disuruh bersujud atas tujuh anggota: dahi- dan nabi s.a.w. mengisyaratkan juga hidungnya- dan kedua-dua tangan dan kedua-dua lutut dan kedua-dua telapak kaki. [H.R. Al Bukhari dan Muslim]

Bacaan dalam sujud

1. Sub-haana rabbiyal a’la “Aku mengakui kesucian Tuhan-ku, Tuhan Yang Maha Tinggi” [H.R. Ahmad dan Ashabus Sunan dari Hudzaifah] Baca sekadar 10 kali atu 3 kali jika dikehendaki oleh keadaan.

2. Subbuuhun qudduusur rabbul malaa-ikatiwaw ruuh. “Tuhan Yang Maha Suci, Tuhan yang Maha Qudus, Tuhan Yang memelihara malaikat dan ruh” [H.R. Muslim, Uqbah bin Amir, Abu Daud dan Aisyah]

3. Sub-haana dzil jabaruuti wal kibriyaai wal ‘a-zhamati. “Maha Suci Tuhan yang mempunyai kekerasan, kekuasaan, kebesaran dan kemuliaan” [H.R. Abu Daud dari Auf ibn Malik Al Asja’i

4. Sub-haanakallahumma rabbana wa bihamdika, Allaahummaghfir lii. “Maha Engkau wahai Tuhan-ku, wahai Tuhan kami dan dengan memuji Engkau, Ya Tuhan-ku, ampunilah segala dosa-dosaku.” [H.R. Ahmad, Muslim dari Aisyah ra. dari Nabi s.a.w.]

5. Sub-haanakallahumma rabbana wa bihamdika, Laa ilaaha illa anta. ” Maha Suci Engkau wahai Tuhan-ku, wahai Tuhan kami dan dengan memuji Engkau, tidak ada Tuhan yang disembah selain Engkau.” [H.R. Muslim dari Aisyah dari Nabi s.a.w.] Nabi s.a.w. bersabda: ” Banyakkanlah doa di dalam sujud, kerana doa di dalam sujud itu sangat lebih layak diperkenankan.” [H.R. Ahmad,Muslim dari Abu Hurairah]

Doa dalam sujud semasa solat

1. Allaahummaghfir lii dzambii kulluhu diqqahu wa jallahu wa awwalahu wa aa-khirahu wa ‘alaaniyyatahu wa sirrahu. “Ya Tuhan-ku, ampunilah segala dosa-dosaku,kecilnya, besarnya, awalnya, akhirnya yang tampak dan yang tersembunyi.”

2. Allaahumma laka ajattu wa bika aamantu wa laka aslamtu sajada wajhiya lilla-dzii khalaqahu wa shawwarahu wa syaqqa sam’ahu wa ba-sharahu tabaarakallaahu ahsanul khaaliqiin. “Ya Tuhan-ku! Kepada Engkau aku sujud, kepada Engkau aku beriman, kepada Engkau aku menyerahkan diriku.Telah bersujud mukaku-diriku-kepada Tuhan yang menjadikannya yang membentuknya, yang membelah pendengarannya dan penglihatannya, Maha Berbahagialah Allah, Tuhan yang paling baik dari segala yang mentaqdirkan(membuat rancangan pekerjaan)” [H.R. Muslim dan Abu Daud dari Abu Hurairah ra. dari Nabi s.a.w.]

3. Allaahumma innii a’uudzu bi ri-dhaaka min sa-kha-thika wa bi mu’aafaatika min ‘uquubatika wa a’uu-dzu bika minka laa uh-shii tsanaa-an ‘alaika anta kamaa ats-naita ‘alaa nafsika. “Ya Tuhan-ku bahwasanya aku berlindung dengan keridhaan Engkau dari segala kemarahan Engkau dan dengan kesukaan Engkau memberi maaf dari siksa Engkau dan aku berlindung dengan engkau-dari Engkau. Aku tidak dapat menghinggakan puji dan sanjung untuk Engkau, sebagaimana Engkau telah memuji dan menyanjung diri Engkau.” [H.R. Ahmad dan Muslim dari ali ra dari Nabi s.a.w.]

4. Allaahummaghfir lii kha-thii-athii wa jahlii wa is-raafii fii amrii wa maa anta a’lamu bihi minnii. ”Ya Allah! Ampunilah aku dari segala kesalahanku, kebodohanku, ketelanjuranku d keterlaluan dalam segala urusan pekerjaanku, segala apa yang Engkau lebih mengetahui daripadaku.” [H.R. Muslim dan Ashabus Sunan dari Aisyah dari Nabi s.a.w.]

5. Allaahummaghfir lii jiddii wa hazalii wa kha-tha-ii wa ‘amdii wa kullu dzaalika ‘indii. “Wahai Tuhan-ku, ampunilah aku terhadap segala pekerjaanku(kesalahanku) yang aku kerjakan sungguh-sungguh, dan segala pekerjaanku(kesalahanku) yang aku kerjakan dengan main-main, dan lagi segala kesalahanku yang aku kerjakan kerana khilaf dan dengan sengaja, semua itu ada padaku.” [H.R. Al Baihaqi dari Abu Musa]

6. Allaahummaghfir lii maa qaddamtu wa maa akhkhartu wa maa as-rartu wa maa a’lantu anta ilaahii laailaaha illaa anta. ”Ya Allah, ampunilah akan daku tentang segala kesalahanku yang aku telah dahulukan, dan yang aku kemudiankan dan yang aku rahsiakan dan yang aku nyatakan (perlihatkan). Engkaulah Tuhan-ku, tidak ada Tuhan selain dari Engkau.” [H.R. Al Baihaqi dari Abu Musa]

Duduk antara dua sujud dalam solat

Angkat kepala seraya bertakbir tanpa mengangkat tangan. Bentangkan kaki kiri serta duduk di atasnya. Tegakkan telapak kaki kanan dan mengarahkan anak-anak jarinya ke kiblat. Letakkan tangan kanan atas paha kanan dan tangan kiri atas paha kiri, sedang anak-anak jari diletakkan dengan mengadapkan ke kiblat. Istighfar dalam duduk antara dua sujud

1. Rabbighfir lii war hamnii waj bujnii wah dinii war zuqni “Tuhan-ku ampunilah aku dan kasihanilah aku dan tutuplah segala keaibanku dan tunjukilah aku-ke jalan yang lurus-dan berilah aku rezeki.” [H.R. At-Tirmidzi dari Ibnu Abbas ra. dari Nabi s.a.w.]

2. Rabbighfir lii war hamnii waj bujnii war fa’nii war zuqnii wah dinii wa ‘aafinii. “Tuhan-ku ampunilah aku dan kasihanilah aku dan tutuplah segala keaibanku dan angkatlah akan kedudukanku, cukupkanlah rezekiku d tunjukilah aku ke jalan yang lurus-dan afiatkanlah aku.” [H.R. Abu Daud dari Ibnu Abbas ra. ]

3. Rabbighfir lii Rabbighfir lii. “Tuhan-ku! Ampunilah aku! Ampunilah aku!” [H.R. An-Nasa’i dan Ibnu Majah dari Hudzaifah ra dari Nabi s.a.w.]

Sujud kedua dalam solat

Setelah duduk sempurna, sujud sekali lagi seperti sujud pertama. Bangkit ke rakaat kedua dalam solat Setelah sujud sempurna, bangkit seraya bertakbir dan duduk sejenak(istirahat). Kemudian berdiri dengan bertekan pada lutut (kedua-dua paha) dengan tidak mengangkat tangan. Setelah tegak berdiri, buatlah seperti rakaat pertama dengan membaca al-Fatihah dan surah yang pendek dari rakaat pertama. Kemudian rukuk, iktidal, sujud dan duduk antara dua sujud seperti biasa. Duduk tasyahud pertama Selepas sujud kedua duduk seperti duduk antara dua sujud(iftirash). Pandangan mata ditujukan kepada hujung telunjuk (isyarat telunjuk).

Bacaan tasyahud (tahiyat)

1. Attahiyyaatu lillaahi wash shalawaatu wath thayyibaat. Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘iba dillaahish shaalihiin. Asyhadu alla ilaaha illallahu wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh.

“Segala kehormatan itu kepunyaan Allah, juga segala ibadat dan segala yang baik-baik. Mudah-mudahan Allah melimpahkan kesejahteraan kepada engkau wahai Nabi, demikian pula rahmat Allah dan berkat-Nya. Mudah-mudahan kesejahteraan itu dicurahkan pula atas kami dan hamba-hamba Allah yang soleh-soleh. Aku mengakui bahawa tidak ada Tuhan yang disembah melainkan Allah. Dan aku akui bahawa Muhammad itu pesuruh-Nya.” [H.R. Al Bukhari, Muslim dari Ibnu Mas’ud ra. dari Nabi s.a.w.]

Selawat dalam tasyahud

Alaahumma shalli ‘alaa Muhammadin ‘abdika wa rasuulika, kamaa shallaita ‘alaa Ibrahiim, wa baarik ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa baarakta ‘alaa Ibraahiima wa ‘alaa aali Ibraahiim.

“Ya Allah! Sanjungkanlah akan Muhammad, hamba-Mu dan pesuruh-Mu sebagaimana Engkau telah menyanjung Ibrahim. Dan beri berkatlah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan berkat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim.” [H.R. Muslim,Ahmad dari Abu Mas’ud Al Badri ra.] Sabda Nabi s.a.w.:

“Apabila kamu duduk di tiap-tiap dua rakaat maka bacalah: Attahiyyaatu lillaahi wash shalawaatu wath thayyibaat. Assalamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullaahi wa baarakaatuh. Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘iba dillaahish shaalihiin. Asyhadu alla ilaaha illallahu wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh. Kemudian hendaklah ia memilih suatu doa yang paling menarik hatinya, lalu ia berdoa memohon kepada Allah (menyeru Allah) dengan doanya itu.”

[H.R. Ahmad]

Allaahumma innii a’uu-dzu bika rabbi min jahdil balaa-i wa darkisy syaqaa-i wa suu-il qadhaa-i wa syamaa-tatil a’daa-i

“Ya Tuhan-ku!Bahwasanya aku berlindung diri kepada Engkau Tuhan-ku dari tekanan bala yang berat menderita nasib celaka, dari nasib buruk dan dari musuh dapat bersenang hati.” [H.R. Bukhari dan Muslim dari Abu hurairah ra.]

Bangkit ke rakaat ketiga dan keempat dalam solat

Selesai duduk tasyahud pertama, bangun ke rakaat ketiga sambil bertakbir dan bertekan pada lutut atau paha. Sesudah berdiri tegak angkat tangan hingga bahu atau telinga. Baca Al Fatihah saja. Boleh juga baca surah yang pendek. Kemudian rukuk, iktidal, sujud, duduk antara dua sujud, dan sujud lagi. Jika solat Maghrib, bangun dan duduk tasyahud akhir. Jika rakaat keempat, bangun duduk istirahat (sejenak) dan berdiri tanpa mengangkat tangan dan meletakkan tangan di atas dada. Baca Al Fatihah, kemudian rukuk, iktidal, sujud, duduk antara dua sujud, dan sujud lagi.

Duduk tasyahud akhir dalam solat

Duduk ini untuk Subuh (dua rakaat), Maghrib (tiga rakaat) dan untuk solat empat rakaat setelah bangun dari sujud kedua. Duduk dengan meletakkan punggung atas tempat solat dan masukan kaki kiri ke bawah kaki kanan yang ditegakkan anak-anak jari ke kiblat. Letakkan tangan seperti tasyahud pertama. Jari telunjuk digerakkan terus menerus dalam solat atau berisyarat tanpa menggerakkannya. Setelah membaca tahiyat seperti tasyahud pertama, baca selawat. Berdoa sebelum salam

1. Allaahumma innii a’uu-dzu bika min ‘a-dzaabil qabri wamin ‘a-dzaa bin naari wa min fitnatil mahyaa wal mamaati wa min fitnatil masiihid dajjaal. “Ya Allah, bahwasanya aku berlindung kepada Engkau dari azab neraka, dari fitnah hidup dan mati dan dari fitnah perosak yang menghabiskan segala kebajikan.” [H.R. Muslim dari Abu Hurairah ra dari Nabi s.a.w.]

2. Allaahummaghfir lii maa qaddamtu wa maa akhkhartu wa maa asrartu wa maa a’lantu wa maa as-raftu wa maa anta a’lamu bihii minnii antal muqaddimu wa antal muakhkhiru laa ilaa ha illaa anta. “Ya Allah! Ampunilah aku terhadap apa yang telah aku dahulukan dan apa yang telah aku akhirkan dan apa yang telah aku rahsiakan dan apa yang aku nyatakan dan apa yang aku boroskan dan apa yang Engkau lebih mengetahui daripadaku,Engkaulah yang mendahulukan, Engkaulah yang menemudiankan, tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau” [H.R. Muslim dari Ali ra. dari Nabi s.a.w.]

3. Allaahumma innii as-aluka minal khairi kullihi maa ‘alimtu minhu wa maa lam a’alam wa a’uu-dzu bika min syarri kullihi maa ‘alimtu minhu wa maa lama’lam. Allaahumma innii as-aluka minal khairi maa sa-alaka bihi ‘ibaadukash shaalihuun. Wa a’uu-dzu bika min syarri masta’aa-dzaka minhu ‘ibaadukash shaalihuun. Rabbanaa aa-tinaa fid dun-ya hasanataw wa qinaa ‘a-dzaaban naar. “Ya Tuhan-ku, bahwasanya aku memohon kepada Engkau dari semua kebajikan apa yang telah aku ketahui dan apa yang belum aku ketahui. Ya Allah, bahwasanya aku memohon kepada Engkau dari sebaik-baik apa yang telah dimohonkan oleh hamba-hamba-Mu yang soleh-solah, dan aku berlindung kepada Engkau dari kejahatan-kejahatan yang telah diminta perlindungan daripadanya kepada Engkau oleh hamba-hamba Engkau yang soleh-soleh. Wahai Tuhan kami, berilah kepada kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” [H.R. Ibnu Abi Syaibah dan Said ibn Manshur dari Umar ibn Said ra. dari Nabi s.a.w.]

4. Allaahumma innii a’uu-dzu bika minal ma’tsami wal maghrami “Ya Allah, bahwasanya aku berlindung kepada Engkau dari dosa dan dari yang memberatkan.” [H.R. Muslim dari kitab Al Adzkar: 170]

5. Allaahumma innii ‘alaa dzik-rika wa syuk-rika wa husni ‘ibaadatika. “Ya Allah, tolonglah aku untuk menyebut-Mu dan mensyukuri-Mu dan elok peribadatanku kepada-Mu.” [H.R. Ahmad,Abu Daud dari Mu’adz ibn Jabal ra. dari Nabi s.a.w.] Rasulullah s.a.w. pernah menyuruh Abu Bakar ra. membaca:

6. Allaahumma innii zhalamtu nafsii zhulman ka-ysiran kabiiran, wa laa yaghfirudz dzunuuba illaa anta faghfir lii maghfiratan ‘indika war hamnii innaka antal ghafuurur rahiim. “Wahai Tuhan-ku, bahwasanya aku telah menganiaya diriku, aniaya yang banyak lagi besar.Tidak ada yang sanggup mengampunkan dosa melainkan Engkau, maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu dan rahmatilah(kasihanilah) aku, bahwasanya Engkau-lah Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Doa ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar ra. dari Abu Bakar ra. dari Nabi s.a.w.:

7. Allaahumma inni as-alukats tsabaa-ta fil amri. Wal ‘azii-mata ‘alar rusydi . Wa as-aluka syukra ni’mataka, wa husna ‘ibaadatika, wa as-aluka qalban saliiman wa lisaanan shaadiqan wa as-aluka min khairi maa ta’lam. Wa a’uu-dzu bika min syarri maa ta’lam. Wa astaghfiruka mimmaa ta’lam. “Ya Allah, bahwasanya aku memohon kepada Engkau kemantapan dalam segala urusan dan kekuatan hati atas jalan yang benar.Aku memohon kepada-Mu; mensyukuri nikmat-Mu dan kebagusan ibadat kepada-Mu. Aku memohon kepada-Mu jiwa yang sejahtera dan lidah yang benar dan aku memohon kepada-Mu sebaik-baik apa yang Engkau ketahui, dan aku berlindung dengan Engkau dari segala kejahatan yang Engkau ketahui dan aku memohon kepada-Mu, ampunan bagi segala dosa yang Engkau ketahui.” [sunting]

Bersalam sesudah solat Palingkan muka ke kanan dan ke kiri dan menyebut lafal salam:

1. Assalaamu’alaikum wa rahmatullaah.

“Mudah-mudahan Allah mencurahkan kesejahteraan atas diriu demikian pula rahmat-Nya.” [H.R. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, At-Tirmidzi]

2. Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wabarakatuh [H.R. Abu Daud]

-rujukan pakcikli00-  

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

(Source: pakcikli00.wordpress.c)